Merespon Ekstremisme Kaum Jihadis Mesir

Jumat siang (24/11) peristiwa menghebohkan terjadi di tanah Mesir. Pasalnya, pada sebuah masjid di Sinai Utara, Mesir, ketika ibadah shalat jumat tengah dilangsungkan aksi teror yang mencekam terjadi.

Sebagaimana dilansir oleh portal berita BBC Indonesia (http://www.bbc.com/indonesia/dunia-42113527 ), korban jiwa yang bergelimpangan mencapai 235 jiwa dan 120 orang lainnya luka parah.

Ibadah Jumat yang semestinya menjadi ruang bagi umat Islam untuk bertatap muka merayakan silaturahmi mingguan dikacaukan oleh aksi ekstrem dari segelintir penganut paham radikal.

Islam Mengutuk Aksi Terorisme

Sebagai agama yang memiliki misi menyebarkan Rahmat bagi semesta alam, Islam jelas mengutuk aksi radikal sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Negara-negara lainnya.

Allah menegaskan di beberapa firman-Nya mengenai besarnya dosa membunuh sesama orang beriman. (Lihat surat al-Nisa : 93)

Nabi Saw mengatakan :

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Seandainya penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang muslim, sungguh Allâh akan menjerumuskan mereka semua di atas wajah mereka di dalam neraka” (HR. Thabrani)

atau kepada non muslim sekalipun, Allah juga melarang melakukan tindak pembunuhan.

Ditegaskan dalam al-Qur'an :

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahamah : 8)

Nabi Saw menegaskan,

"Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, (maka) ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun. (HR. al-Bukhâri)

Singkat uraian sejatinya cukuplah surat al-anbiya ayat 107 dijadikan pegangan bahwa Islam hadir membawa ketenangan dan kedamaian di muka bumi ini.

"Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

Memaknai Jihad Hakiki

Dr. Nur Rofiah, salah seorang intelektual islam, dalam sebuah kelas yang pernah kami ikuti mendefinisikan bahwa al-qur'an (beserta komponen Wahyu lainnya yang diturunkan kepad Nabi Muhamad) adalah sebuah pedoman yang bersifat emansipatoris, membebaskan keterbelengguan umat.

Abdul Muqsith, intelektual Islam menuturkan dalam tulisannya pada buku "Islam Nusantara : Dari Ushul Fikih hingga paham Kebangsaan :

"Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah, seorang tokoh Islam bermadzhab Hanbali, menyimpulkan bahwa syari’at Islam dibangun untuk kepentingan manusia dan tujuan-tujuan kemanusiaan universal yang lain, yaitu kemaslahatan,keadilan,kerahmatan, dan kebijaksanaan (al￾hikmah)."

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan adalah soko guru hukum Islam.

Maka berangkat dari penalaran yang sehat dan sesuai dengan analisa subtansi Islam sebagai agama yang salaam (damai)  maka jihad harus dipahami dengan konteks yang sehat pula.

Jihad tidak selalu diidentikkan dengan perang dan pertumpahan darah. Alih-alih mengangkat martabat Islam, dengan mendefinisikan jihad semencekam itu maka catatan hitamlah yang malah kita dapatkan.

Jihad yang hakiki adalah berjuang memakmurkan Islam di mata peradaban. Jihad yang luhur adalah jihad yang melabuhkan agama dalam konteks keharmonisan umat. Jihad yang yang bernilai adalah jihad yang mampu menyelaraskan visi besar Islam sebagai agama Rahmat dengan kearifan berbangsa dan bernegara secara profesional dan penuh kerahmatan.

Komentar

Google + Follower's