Pelepasan Wisudawan Berprestasi dan Berakhlak Mulia

Dalam acara pelepasan wisudawan fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta dengan tajuk "Pelepasan Wisudawan Berprestasi dan Berakhlak Mulia" yang dihelat di Aula Institut PTIQ Jakarta, Kamis 16 November 2017, beberapa dosen menyampaikan pesan dan kesan yang teramat menyentuh sanubari kami selaku calon wisudawan.

Waktu 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, tertuang kekayaan pengalaman dan pelajaran yang bisa dikais di dalamnya. Atas prinsip itu, beberapa dosen yang hadir ketika itu; Dr. Husnul Hakim (Demisoner Dekan Ushuluddin),  Andi Rahman, MA (Dekan Ushuluddin), Lukman Hakim, MA (Ketua Jurusan Prodi Ilmu Quran dan Tafsir), Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah (Dosen Hadis), Ansor Bahari, MA (Dosen Pemikiran Islam),  Pak Solihin (Demisioner TU Ushuluddin),  Pak Amiril (TU Ushuluddin), turut menyampaikan pesan serta kesan mereka selama menggeluti dinamika proses KBM di kampus bersama calon wisudawan Fakultas Ushuluddin yang akan memakai toga pada 18 November mendatang.

Dr. Husnul Hakim mengatakan bahwa silakan setelah ini kalian (para calon wisudawan) jadi apa saja, asal tetap bergelut dengan keilmuan.

Jangan jadikan wisuda ptiq ini sebagai akhir, tapi jadikan ia sebagai pintu untuk memasuki ruang yang lebih luas. Ibarat masuk hutan, anda baru akan masuk menuju belantara yang penuh dengan tantangan.

Kampus hanya memberi bekal dasar saja, kalianlah yang akan mengembangkannya.
Sebagai alumni ushuluddin PTIQ kalian adalah thoifatun minal firqoh, elit intelektual yang akan berkiprah di masyarakat.

Ingat, yang membedakan ushuluddin dengan fakultas lain adalah karena ushuluddin merupakan fakultas berbasis ideologi dan ilmu.

Khudz ma sofa wa da' ma kadara,  ambillah yang jernih dan tinggalkan yang keruh. Dan ingat, kegagalan seseorang adalah saat ia berhenti berproses." tutup pengasuh pesantren quran Elsiq, Pondok Cabe tersebut seraya menlantunkan salam tanda berakhir pembicaraan.

Pak Lukman Hakim, ketua prodi IAT yang juga pernah mengajar mata kuliah bahasa Inggris menegaskan bahwa jangan sekali2 kalian meninggalkan bahasa Arab dan Inggris. Karena keduanya akan sangat berguna di masa yang akan datang.

Karena jika tidak menguasai keduanya, malah akan menjadi musuh yang menyusahkan anda sebagai seorang akademis.

Lebih dari itu, abdikan separuh diri anda untuk dunia pendidikan. Dengan demikian ilmu anda terpakai dan anda menjadi bermanfaat." ujar pak Lukman.

Pak Ubaydi Hasbillah dengan nada serius menekankan kepada kami calon wisudawan bahwa sebagaimana kami bernalar menuntaskan skripsi kemarin, seperti itulah kalian akan menuntaskan problematik kehidupan.

Dalam artian, hidup perlu diseriusi serta diistiqomahi. Layaknya penelitian, demikian pula persoalan hidup harus kita atur sistematis dan mengerjakannya dengan khidmat.

Lebih jauh beliau menandaskan bahwa fase pergumulan seseorang dengan al-qur'an menjadi 3 bagian :

1. Ashabul Quran, yang masih sekadar membaca saja. Berangkat dari sabda Nabi "bacalah quran karena ia akan menjadi syafaat bagi sahabatnya (quran) "

2. Al-mahir bil Qur'an (duta al-qur'an),  ialah orang yang mampu membaca dan memahami al-qur'an. Sabda Nabi,  "al-mahir bil quran ma safarotil kiromil baroroh/ orang yang pandai al-qur'an akan bersanding dengan malaikat 2 yang mulia.

3. Ahlul Quran wa khassatuh, yakni mereka ahli quran baik secara bacaan, pemahaman maupun pengamalan dan pengajaran.

Inilah tahap yang paling Agung dan paling susah diraih. Tapi ganjaran yang didapat pun tanggung2, golongan ini oleh Nabi diklaim sebagai ahlullah fil ardhi.

Acara dilanjutkan dengan doa yang dibacakan dengan khidmat oleh pak dekan, pak Andi Rahman, dengan harapan kita semua menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna bagi kedua orang tua, masyarakat, agama, nusa dan bangsa.

Bintaro, 17 November 2017.

Komentar

Google + Follower's