Pidato Kebudayaan dan Peningkatan Mawas Diri

Pidato kebudayaan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, merupakan agenda tahunan yang cukup menyita perhatian banyak orang.

Pasalnya, perayaan yang dihelat setahun sekali ini rutin mengundangkan tokoh-tokoh kenamaamaan untuk menyampaikan ide dan gagasan brilian dalam merespon khasanah kebudayaan dan realitas yang tengah berkembang.

Dimulai pada tahun 1980, beberapa tokoh seperti Mahfud MD, Rocky Gerung, Karlina Supelli, Azyumardi Azra, Syafii Maarif, dan banyak tokoh-tokoh lain tampil sebagai penyaji pidato kebudayaan. Tema yang diusung pun merupakan tema yang bersifat tawaran solusi atas problematika kebudayaan dan realitas yang ada.

Jumat malam kemarin (10/11/2017) untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengikuti pidato kebudayaan di teater Jakarta, Taman Ismail marzuki. Pembicara kali itu adalah Roby Muhammad, seorang ilmuwan dan entrepreneur lulusan Colombia University, dengan mengangkat sebuah tulisan berjudul "Nostalgia Masa Depan Manusia".

Manusia, dengan segala perangkat dan fasilitas kecanggihan zaman yang tersedia, telah melakukan perubahan dan inovasi yang begitu cepat dan cantik dalam merumuskan skema peradaban yang profesional.

Dalam pidato yang disampaikan oleh Roby Muhamad yang dilakukan selama kurang lebih 1 jam di panggung teater, dibahas rapi pandangan responsitas beliau atas sepuluh topik yang merepresentasikan lanskap kebudayaan.

Tema-tema itu adalah moral, politik, agama, kognisi, biologi, fisika, dan lain-lain. Roby Muhamad dengan piawainya kerap mengangkat sesuatu yang belum terangkat dalam pandangan orang banyak dalam setiap topik yang dibicarakan.

Mengantar acara ini, Irawan Karseno, ketua Dewan Kesenian Jakarta, ia menyatakan keberatan atas pihak keamanan yang terkadang mempersulit izin keamanan dalam penyelenggaraan acara bertajuk kebudayaan.

Ia mengatakan bahwa hal itu hanya menghambat laju ekspresi kebudayaan saja. Sekarang bukan era orde baru, dimana kebebasan ekspresi dikebiri dan dibendung kebebasannya.

Menyimak semua yang disampaikan oleh penyampai pidato, mengenai keharusan kita untuk Arif dalam mewujudkan peradaban mulia, bijak dalam berbangsa dan bernegara, dan konsep-konsep besar lainnya yang disampaikan, saya menterjemahkannya sebagai sebuah anjuran agar kita menunaikan tugas2 yang sering kita abaikan dalam keseharian.

Hal demikian karena peradaban dan kebudayaan yang cakap dihasilkan dari konsistensi setiap personal dalam mengisi ruang peradabannya masing-masing dengan profesional dan aktif melakukan aksi kolaboratif dengan jaringan yang menopang eksistensi bidangnya.

Karena, sebagaimana diungkapkan oleh Gus Romzi, intelektual lulusan pesantren, dalam acara Workshop Kepesantrenan di Darus-Sunnah, Ciputat,  bahwa di antara ciri gen z, generasi post-milenial, adalah semangat berkolabosi dan kooperatif dalam mewujudkan peradaban yang mumpuni. Tidak lagi mementingkan semangat kompetisi yang hanya melahirkan pribadi individual yang bekerja sendiri-sendiri.

Bintaro, 13 November 2017

Komentar

Google + Follower's