Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Tahun Baru dan Kemubaziran Raksasa

Tahun baru tiba, langit gempita oleh kembang api yang menyala. Tenggat perbedaan para ahli agama dan ilmu lainnya yang bersatu-padu meramaikan jagat Maya telah usai sudah. Pro-kontra apakah tahun baru legal dilakukan menurut agama atau diharamkan sudah habis masa mainnya. Sekarang tinggal pertanyaan mendasar yang perlu saya lontarkan disini. Terlepas dari apakah pandangan agama soal ini saya ingin bertanya lewat standar etika dan nurani kemanusiaan. Mengenai budaya menghamburkan Harta yang berbentuk kembang api, dan dilaksanakan setiap pergantian tahun dengan biaya yang tak murah, sementara masyarakat miskin malah makin menjamur minta untuk disantuni, kira2 etiskah? Untuk yang sering menyoroti masalah kemanusiaan, etika keadaban, serta menurut pejuang ketertindasan, apakah hal semacam nikmat untuk dipandang? Apalagi menimbang masih terbengkalainya nasib saudara kita di Palestina sana yang terpapar nasibnya di laras senapan penjajah, kira2 bagaimanakah...? 

Buku Sebagai Inspirasi Peradaban

Gambar
Pada suatu sore yang sejuk segerombolan santri berjalan mengitari pesantren sekadar melepas penat berdiam lama di asrama. Tak lama kemudian, saat melintasi ruang publik, beberapa pengurus memergoki mereka. "Hei kamu, yang berbaju biru, mana bukumu?"Sontak ia kaget. Duh, kenapa lupa bawa buku yaaa.  Ucapnya dalam hati seraya mengerutkan dahi. "Yasudah, kamu saya Kasih tugas untuk meresensi satu buku novel yang ada di perpustakaan. Saya Kasih waktu seminggu. "Santri berbaju biru tersebut mengangguk berat. Memahami kekhilafan dirinya yang lupa menenteng buku. Demikianlah suasana dan kondisi pesantrenku sewaktu di Madura dulu. Peraturan mengatakan bahwa setiap santri harus membawa buku kemanapun dia melangkah kan kaki kecuali saat berada di kamar mandi saja. Peraturan ini seiring berjalannya waktu membuatku tersadar bahwa ia merupakan langkah bijak nan efektif untuk perkembangan pelajar. Dengan membawa buku setidaknya meskipun ia awalnya enggan membaca, tapi karena ia …

Lima Elemen Perubahan

Dalam suatu perkuliahan, Dr Nur Rofiah, pengampu mata kuliah peradaban Islam menegaskan, bahwa dalam hal menentukan arah jalan peradaban ada lima pihak yang memiliki otoritas perubahan. Kelima elemen itu adalah Pemerintah, Pengusaha, Rakyat, militer dan Agamawan. Urutan di atas tidak menentukan derajat kualitas kadar keberpengaruhan. Sembari menyeruput kopi hangat anda mari simak narasi yang akan saya urai berikut ini.    Yang pertama adalah pemerintah. Pemerintah adalah sebutan bagi sekelompok elit politik dalam suatu Negara yang memiliki wewenang untuk membuat dan menentukan sebuah kebijakan di dalamnya. Dalam konteks Negara kita pemangku pemerintahan terdiriri dari legislatif, yudikatif, dan Letak keberpengaruhan elemen ini adalah  otoritasnya menentukan sebuah kebijakan dan undang-undang pemerintahan yang mencakup hajat orang banyak. Idealitas dan keberpihakan undang-undang bisa diatur lewat elemen ini. Jika pemangku pemerintahan cerdas dan Arif maka bentuk kebijakan yang dihasilk…

Saatnya Para Kiai Berpolitik

Dahulu, jika kita mendengar istilah kiai berpolitik maka dengan segera muncul kesimpulan negatif. Kiai harusnya mencukupkan diri mengurusi pesantren dan agenda2 keagamaan lainnya, tidak usah terjun pada ranah politik yang dinilai penuh dengan noda dan kecurangan. Terlalu duniawi. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, paradigma tersebut mulai dan memang harus berubah. Mengejawantahkan amanat subtansi agama tak mesti lewat mimbar dan mihrab saja, lebih dari itu- bahkan ini yang lebih utama- harus diekspresikan dalam ranah yang lebih global dan memiliki daya jangkauan yang lebih luas. Dalam lanskap yang lebih luas, kiai perlu bergerak menuju ruang yang bisa membuat gagasannya lebih terdistribusi dengan luas. Salah satunya adalah dengan cara berpolitik. Kiai yang politikus memiliki energi lebih dalan menyematkan ajaran salehnya dalam otoritas kebijakan dalam pemerintahan yang dibuat. Puluhan tahun lalu Soekarno pernah berujar bahwa siapapun berhak mengeluarkan aspirasinya dalam kebijaka…

Membaca Hikmah Gusdur

Judul : Gusdur dalam Obrolan Gusmus
Penulis : Husein Muhammad
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2015
Tempat : Bandung
Jumlah Halaman : 180 halمن ذاق عرف و من لم يذق لم يعرفSiapa yang mengalami dia akan mengerti, dan siapa yang tak mengalami tidak akan mengerti. (69)Para bijak bestari, para sufi, mengatakan, "bagikan kebaikan itu karena kebaikan itu sendiri, bukan karena berharap agar kebaikan itu kembali kepada dirimu." (115)Gus Mus mengatakan, "Menjadi manusia artinya mengerti bahwa dirinya adalah manusia, mengerti tentang manusia lain, dan bisa memanusiakan manusia." (139)ما أكرم النساء إلا كريم، وما أهانهن إلا لئيمImam Ali bin Abi Thalib berkata, Hanya orang mulia yang bisa memuliakan perempuan, dan hanya orang rendah Budi yang merendahkan perempuan. (142)Gus Mus berkata,
" pokoknya kerjaan gusdur tiap hari,ya,membaca buku,menulis artikel,berdiskusi, ngobrol-ngobrol disertai humor segar, lalu nongkrong2 di Qahwaji (tempat minum kopi atau teh), dan menonton …

Etos Kerja Maksimal Sebagai Bentuk Ibadah Sosial

Dalam Islam ibadah terbagi menjadi dua bahagian, ibadah yang bersifat vertikal, yang merujuk kepada hubungan antara hamba dan Tuhan, dan ada juga ibadah horizontal, yang memperkarakan relasi antara manusia dan sesamanya. Biasa kita sebut pula dengan ibadah sosial. Di antara bentuk ibadah sosial adalah bekerja dengan sungguh dan serius menekuni dunia pekerjaan. Etos kerja yang berkualitas menjadi tanda kemaksimalan ibadah seorang hamba. Contoh nya Nabi yang berjuang bekerja baik sebagai pedagang sebelum menjadi Nabi atau dengan mendakwahkan risalah Allah setelah diutus menjadi Rasul. Salah seorang sahabat Nabi, Salman al-farisi, setibanya di Madinah demi melangsungkan hijrah, langsung bertanya kepada masyarakat sekitar agar ditunjukkan pasar. Baginya bekerja merupakan keharusan yang ditunaikan sebagai hamba yang bersyukur. Allah berfirman : و قل اعملوا فسيرالله عملكم و رسوله و المؤمنون و ستردون إلى عالم الغيب و الشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون... التوبة : 105و أن ليس للإنسان إلا ما سعى.…

Google + Follower's