Buku Sebagai Inspirasi Peradaban

Pada suatu sore yang sejuk segerombolan santri berjalan mengitari pesantren sekadar melepas penat berdiam lama di asrama. 

Tak lama kemudian, saat melintasi ruang publik, beberapa pengurus memergoki mereka. 

"Hei kamu, yang berbaju biru, mana bukumu?"

Sontak ia kaget. Duh, kenapa lupa bawa buku yaaa.  Ucapnya dalam hati seraya mengerutkan dahi. 

"Yasudah, kamu saya Kasih tugas untuk meresensi satu buku novel yang ada di perpustakaan. Saya Kasih waktu seminggu. "

Santri berbaju biru tersebut mengangguk berat. Memahami kekhilafan dirinya yang lupa menenteng buku. 

Demikianlah suasana dan kondisi pesantrenku sewaktu di Madura dulu. Peraturan mengatakan bahwa setiap santri harus membawa buku kemanapun dia melangkah kan kaki kecuali saat berada di kamar mandi saja. 

Peraturan ini seiring berjalannya waktu membuatku tersadar bahwa ia merupakan langkah bijak nan efektif untuk perkembangan pelajar. Dengan membawa buku setidaknya meskipun ia awalnya enggan membaca, tapi karena ia bawa terus, pada suatu kesempatan ia akan membacanya juga. 

Dan kita tahu, membaca adalah menguak jendela dunia. Membaca adalah Sumber inspirasi peradaban.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi pun berbunyi : bacalah !

Tak heran jika kemudian timbul petuah bijak yang berbunyi : 


*Sebaik-baik teman duduk adalah Buku*

Bintaro, 27/12/2017. 09:09. Menjelang tidur. 

Writed by Samsung J3 Pro. Apl Blogger. 




Komentar

Google + Follower's