Etos Kerja Maksimal Sebagai Bentuk Ibadah Sosial

Dalam Islam ibadah terbagi menjadi dua bahagian, ibadah yang bersifat vertikal, yang merujuk kepada hubungan antara hamba dan Tuhan, dan ada juga ibadah horizontal, yang memperkarakan relasi antara manusia dan sesamanya. Biasa kita sebut pula dengan ibadah sosial.

Di antara bentuk ibadah sosial adalah bekerja dengan sungguh dan serius menekuni dunia pekerjaan. Etos kerja yang berkualitas menjadi tanda kemaksimalan ibadah seorang hamba.

Contoh nya Nabi yang berjuang bekerja baik sebagai pedagang sebelum menjadi Nabi atau dengan mendakwahkan risalah Allah setelah diutus menjadi Rasul.

Salah seorang sahabat Nabi, Salman al-farisi, setibanya di Madinah demi melangsungkan hijrah, langsung bertanya kepada masyarakat sekitar agar ditunjukkan pasar. Baginya bekerja merupakan keharusan yang ditunaikan sebagai hamba yang bersyukur.

Allah berfirman :

و قل اعملوا فسيرالله عملكم و رسوله و المؤمنون و ستردون إلى عالم الغيب و الشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون...

التوبة : 105

و أن ليس للإنسان إلا ما سعى....

Hal ini harus disertai penegasan bahwa dibalik semua sekenario kehidupan ini Allah sudah mengatur jalan rezeki masing-masing hamba-Nya. Semua dipertimbangkan dengan keadilan merata.
Jangan khawatir, tugas kita adalah bekerja lalu menyerahkan hasil kepada Allah sang pencipta. Man proposes god disproposes.

Dan ingat, di antara kunci kesuksesan kita baik di dunia maupun di akhirat adalah dengan eksis menjaga hak2 Allah atas diri kita.

فاذكرونى أذكركم و اشكرو لى و لا تكفرون

Selama kita mengingat-Nya dengan cara bekerja profesional, cakap, serta tidak meninggalkan kewajiban salat, maka Allah akan menguatkan langkah kita serta senatiasa menangkat harkat dan martabat kita baik di dunia maupun di akhirat.

Depsos,  07/12/2017

Komentar

Google + Follower's