Saatnya Para Kiai Berpolitik

Dahulu, jika kita mendengar istilah kiai berpolitik maka dengan segera muncul kesimpulan negatif. Kiai harusnya mencukupkan diri mengurusi pesantren dan agenda2 keagamaan lainnya, tidak usah terjun pada ranah politik yang dinilai penuh dengan noda dan kecurangan. Terlalu duniawi.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, paradigma tersebut mulai dan memang harus berubah. Mengejawantahkan amanat subtansi agama tak mesti lewat mimbar dan mihrab saja, lebih dari itu- bahkan ini yang lebih utama- harus diekspresikan dalam ranah yang lebih global dan memiliki daya jangkauan yang lebih luas.

Dalam lanskap yang lebih luas, kiai perlu bergerak menuju ruang yang bisa membuat gagasannya lebih terdistribusi dengan luas. Salah satunya adalah dengan cara berpolitik. Kiai yang politikus memiliki energi lebih dalan menyematkan ajaran salehnya dalam otoritas kebijakan dalam pemerintahan yang dibuat.

Puluhan tahun lalu Soekarno pernah berujar bahwa siapapun berhak mengeluarkan aspirasinya dalam kebijakan pemerintahan lewat jalur konstitusional. Umat islam yang menghendaki agar ajarannya mewarnai UUD Negara silakan masuk dalam kursi pemerintahan dan kuasai musyawarah-musyawarah pembentukan undang-undang Negara. Demikian agama lain jika memang menghendaki.

Kearifan Islam

Kerapkali kita mendengar gaungan bahwa ajaran Islam sejalan dengan perkembangan peradaban. Baik, saatnya kita membuktikan.

Islam yang konon sudah berusia hampir lima belas abad telah banyak memberikan sentuhan-sentuhan konstruktif terhadap peradaban manusia. Hal inilah semangat yang perlu direalisasikan kembali.

Apa yang diusung Bung Karno merupakan langkah yang cerdas dan solutif. Dibanding kita menyinyir dan mencibir kebijakan pemerintahan tanpa tahu tekhnis yang mengitarinya lebih baik segolongan dari kita yang kita anggap baik dan mengerti kearifan Negara agar turut andil dalam kontestasi politik di negeri ini.

Kiai-dan orang2 saleh lainnya- tak mesti menghabiskan dirinya dalam gelanggang surau pengajian. Tetap aktif mengader pelanjut yang konsen di bidang mengurusi polemik keagamaan tingkat daerah, tapi juga harus ada yang maju meramaikan pesta perpolitikan di negeri tercinta ini.

Apalagi memperhatikan berita bahwa tahun 2018 adalah tahun politik maka inilah kesempatan yang emas bagi para kiai (ahli hikmah)  untuk menggaungkan kearifan sosialnya lewat kursi pemerintahan.

Bintaro,  19 Desember 2017

Komentar

Google + Follower's