Sekelumit Tentang Muqaddimah Ibnu Khaldun

Muqaddimah Ibnu Khaldun adalah sebuah muqaddimah dari sebuah kitab tebal berkisar 14 jilid yang mempunyai nama lengkap Kitab al-I’bar wa Dhuan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asharahiim min Dzawi al-Suthan al-Akbar.

Kitab ini ditulis oleh seorang sosiolog Islam terkemuka yang bernama Ibnu Khaldun, didalamnya diungkapkan sebuah auto-kritik beliau terhadap banyak sejarawan yang mulai tidak mengindahkan pertanggunjawaban keilmiahannya dalam penuturan sebuah sejarah.

Adalah Imam Ath-Thobari , seorang faqih, mufassir, muhaddits dan seorang sejarawan yang amat dibanggakan.

Dalam metode penuturan sejarahnya beliau amat berkomitmen dalam menjaga amanah ke-ilmiah-annya selaku sejarawan, hal itu dibuktikan dengan metode yang beliau pakai yaitu Jam’u Riwayah (mengumpulkan riwayat) sebuah cerita, hal ini adalah bias dari sistem penuturan riwayat dalam sebuah hadits yang disebut dengan Sanad.

Dan hal inilah kemudian yang membuat Ibnu Khaldun amat bangga kepada Imam Ath-Thobari, dan amat menyayangkan bahwa saat ini banyak sekali.

Kisah unik lainnya yang berkaitan dengan Tarikh Ath-Thobari (tarikh al-umam wal muluk) adalah bahwasanya beliau Imam Ath-Thobari pernah berkata di depan muridnya “ siapkan oleh kalian kertas yang banyak dan pena dengan tinta yang banyak, akan kuceritakan kepada kalian sejarah dari Adam sampai kepada hari kiamat nanti, yaitu berupa fitnah-fitnah yang terjadi menjelang hari akhir ini.”

Namun, disamping beliau mampu mengkritik tata cara penuturan sejarah yang sudah dianggapnya cacat itu, beliau juga mampu membuat dan menggagas sebuah disiplin ilmu baru yaitu al-‘Ilmu al-‘Umran/ Ilmu Peradaban.

Nashr Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa peradaban islam adalah peradaban teks, yaitu peradaban yang berpaku pada Qur’an dan Hadits, kaku dan tabu dalam menghasilkan sebuah peradaban baru.

Namun jika kita mengkaji kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun maka semua anggapan itu akan sirna. Bahwa ternyata peradaban Islam adalah peradaban yang lahir dari teks disertai dengan kerja yang nyata.

Bukti dari hal ini adalah dengan adanya fiqh siyasah/Fiqih Politik, dimana ajaran seperti itu adalah lahir dari hasil rekontruksi budaya dan prilaku khulafa’ rasyidin. Kita mengikuti salafussaleh untuk menirunya sehingga kemudian kita bisa menjadi bagian dari mulianya peradaban Islam. Peradaban Islam bukan hanya teks, akan tetapi lewat peristiwa dan perjuangan yang nyata.

Dalam al-‘Ibar di katakan bahwa ada 3 jenis manusia yang ikut mewarnai peradaban dunia, yaitu bangsa Arab, bangsa ‘Ajam ( hal ini didominasi non-Arab dan non Eropa), dan yang terakhir adalah kaum Barbar (yang dimaksud adalah kaum Eropa).

Ada sebuah statement menarik yang terdapat dalam karya beliau ini, yaitu Al-Insanu Madaniyyun Thob’iy, bahwasanya manusia memiliki naluri alami dalam dirinya untuk selalu hidup bermasyarakat dengan sesamanya.

Beliau pun beranggapan bahwa mereka yang selalu bersikap individualistis, adalah ciri dari sikap masyrakat yang primitif ( Al-Badawi ).

Darussunnah, Selasa 09/09/14. 23:20

Oleh : Ja’far Tamam

Komentar

Google + Follower's